kubetno1.net

Luhut Wacanakan Lebih Banyak Maskapai Asing Masuk RI

Menko Marves Luhut Binsar Pandjaitan seusai konferensi pers terkait kerja sama ekspedisi penelitian laut dalam OceanX dan Indonesia di Nusa Dua, Badung, Bali, Rabu (15/5/2024). (Foto: Aryo Mahendro/detikBali)
Menko Marves Luhut Binsar Pandjaitan seusai konferensi pers terkait kerja sama ekspedisi penelitian laut dalam OceanX dan Indonesia di Nusa Dua, Badung, Bali, Rabu (15/5/2024). (Aryo Mahendro/detikBali)

Jakarta -

Menteri Koordinator Bidang Kemaritiman dan Investasi (Menko Marves) Luhut Binsar Pandjaitan mendorong maskapai asing masuk ke Indonesia. Apa alasannya?

"Sekarang kita mau dorong airline asing masuk ke dalam tapi kita tata," kata Luhut usai memimpin konferensi pers Ekspedisi bersama Indonesia-OceanX, di Nusa Dua, Kabupaten Badung, Bali, Rabu (15/5/2024).

Untuk menarik minat maskapai asing masuk ke Indonesia, Luhut bahkan menyebut bakal mengijinkan untuk menjadi pemegang saham mayoritas di perusahaan maskapai yang beroperasi di Indonesia.

ADVERTISEMENT

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

"Misalnya dulu ada aturan tidak boleh (asing) majority sahamnya. Kalau kau (investor lokal) tidak bisa penuhi, masa orang menderita? Pariwisata kita rusak kan? Boleh saja majority," ujarnya.

Aturan jadul yang dimaksud Luhut adalah Peraturan Presiden Nomor 44 Tahun 2016 tentang Daftar Bidang Usaha yang Tertutup dan Bidang Usaha yang Terbuka dengan Persyaratan di Bidang Penanaman Modal alias Perpres Daftar Negatif Investasi.

ADVERTISEMENT

Berdasarkan Perpres DNI yang kini tak berlaku itu, penyertaan modal asing di bisnis maskapai dalam negeri dibatasi maksimal 49 persen. Komposisi modal nasional harus tetap lebih besar dari keseluruhan pemilik modal asing (single majority).

Luhut lantas bercerita keinginannya agar asing bisa masuk ke industri penerbangan di Indonesia didasari keluhan turis mancanegara. Saat itu katanya, ada penumpang Garuda Indonesia asal Jepang yang mengeluhkan maskapai di Tanah Air sedikit. Padahal banyak penumpang pesawat yang membutuhkan angkutan tersebut.

Luhut mengatakan dengan hadirnya asing di bisnis penerbangan domestik, maskapai lokal nantinya harus berkompetisi. Kondisi saat ini, masyarakat harus mengeluarkan biaya tinggi untuk bepergian.

"Sama seperti (airline) Garuda sekarang, tadi penumpangnya komplain dari Jepang. Begitu banyak orang mau naik, airline-nya kurang, mesti lewat mana, akhirnya mahal," ujarnya.

Masalah armada pesawat itu juga pernah disinggung Menteri Badan Usaha Milik Negara (BUMN) Erick Thohir pada November tahun lalu. Waktu itu, Erick menyebut salah satu penyebab harga tiket pesawat masih mahal usai pandemi Covid adalah jumlah pesawat beroperasi yang masih sedikit.

"Kalau bicara jumlah pesawat saja masih kurang. Pak Menhub (Budi Karya Sumadi) mengatakan 440 (pesawat), kebutuhannya 700 (pesawat), makanya tiket masih mahal," ucap Erick di kantor Kementerian BUMN, Kamis (23/11).

Menhub Budi Karya Sumadi juga sempat mengungkap jumlah pesawat yang beroperasi di Indonesia mengalami penurunan secara drastis. Bahkan, suku cadang pesawatnya pun terbatas. Hal tersebut dikarenakan industri aviasi yang belum pulih total usai Covid-19. Jika sebelumnya 650 pesawat yang beroperasi, sekarang tinggal 400.

***

Artikel ini sudah lebih dulu tayang di CNN Indonesia. Selengkapnya klik di sini.



Simak Video "Luhut Bahas Pesan soal Orang Toksik: Cari yang Bisa Kerja"
[Gambas:Video 20detik]
(fem/fem)

Terkini Lainnya

Tautan Sahabat