kubetno1.net

Virus Mematikan Hantui Gajah di Kebun Binatang Eropa dan Amerika Utara

In this aerial photo released by Chinas Xinhua News Agency, a herd of wild Asian elephants walks in Eshan county in southwestern Chinas Yunnan Province, Friday, May 28, 2021. According to Chinese state media, nearby residents were evacuated as a precaution on Friday as the herd of 15 elephants have caused over 400 incidents and more than $1 million in damage since wandering out of a nature reserve area in mid-April. (Hu Chao/Xinhua via AP)
Gajah Asia (Foto: AP Photo/Hu Chao)

Jakarta -

Seekor gajah muda telah mati di sebuah kebun binatang. Ia adalah korban kedua akibat infeksi sebuah virus berbahaya.

Mengutip BBC, Rabu (10/7/2024), pihak kebun binatang mengatakan bahwa gajah tersebut mati karena Elephant Endotheliotropic Herpesvirus (EEHV) dalam sebuah pernyataan.

Virus yang menyerang selaput otak itu, dengan cepat menyebabkan demam dan pendarahan ini memiliki tingkat kematian hingga 85%.

ADVERTISEMENT

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Hampir semua gajah asia membawa virus itu, tetapi hanya berkembang menjadi penyakit pada beberapa gajah dan tidak ada vaksinasi untuk melawannya. Virus itu tidak menimbulkan risiko kesehatan bagi manusia.

"Kami sangat sedih dengan kematian Zinda, gajah berusia tujuh tahun yang kami cintai, pada tanggal 7 Juli lalu. Kematian gajah itu terjadi setelah kematian gajah lainnya, Avani, pada tanggal 1 Juli, yang terinfeksi virus yang sama," pernyataan kebun binatang.

ADVERTISEMENT

Tentang Virus Endoteliotrofik

Masih sedikit yang diketahui tentang EEHV, yang menyerang gajah-gajah liar dan gajah-gajah di Asia. Virus ini sering berada dalam kondisi laten pada gajah dan dapat dipicu tanpa peringatan, karena virus ini dibawa tanpa gejala.

EEHV ditemukan pada tahun 1990 dan secara resmi dikarakterisasi pada tahun 1999 oleh para peneliti di Kebun Binatang Smithsonian di Washington DC.

Mereka mengaitkan 10 kasus "penyakit perdarahan yang sangat fatal" pada gajah muda Asia dan Afrika di kebun binatang. Dalam setiap kasus, mereka menemukan "partikel mirip virus herpes" di dalam sel-sel jantung, hati, dan lidah gajah yang mati.

Sejak saat itu, virus ini telah mengoyak populasi gajah di kebun binatang. Virus ini telah menyebabkan lebih dari separuh kematian gajah Asia di kebun binatang Eropa dan Amerika Utara selama empat dekade terakhir.

Virus itu telah terdeteksi di suaka margasatwa, taman safari, dan yang lebih mengkhawatirkan lagi, pada kawanan gajah liar di sembilan negara, termasuk di India, Nepal, dan Myanmar.



Menyambut Kelahiran Anak Burung Kondor California Ke-250

Menyambut Kelahiran Anak Burung Kondor California Ke-250


(msl/fem)

Terkini Lainnya

Tautan Sahabat