kubetno1.net

Kisah Sumiran, Penghuni Terakhir Kampung Mati di Kulon Progo

Kondisi rumah satu-satunya di Kampung Mati, Dusun Watu Belah, Kalurahan Sidomulyo, Kapanewon Pengasih, Kulon Progo, Jumat (16/6/2023).
Foto: Kampung Mati di Kulon Progo (Jalu Rahman Dewantara/detikJateng)

Kulon Progo -

Di Kulon Progo ada satu 'Kampung Mati' yang ditinggalkan oleh para penghuninya. Namun Sumiran, tetap setia tinggal di sana. Begini kisahnya:

Keluarga yang tetap setia tinggal di Kampung Mati itu beranggotakan Sumiran (50) dan istrinya Sugiati (51), serta dua anaknya Agus Sarwanto (24) dan Dewi Septiani (11).

Sejak akhir 2023, keluarga Sumiran sebenarnya sudah punya hunian baru di wilayah Dusun Watu Belah, dan dekat dengan akses utama menuju jalan desa.

ADVERTISEMENT

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Meski telah dibuatkan rumah baru yang lebih dekat dengan perkampungan, Sumiran dan istrinya tetap setia menjadi penghuni terakhir 'Kampung Mati' di tengah hutan perbukitan Menoreh, Kabupaten Kulon Progo.

"Saya dan suami lebih sering di sini mas, kadang juga tidurnya di sini. Kalau anak-anak itu yang sering di rumah baru," ucap Sugiati saat ditemui di Kampung Mati Kulon Progo, Senin (1/7).

ADVERTISEMENT

Sumiran merasa lebih tenang tinggal di Kampung Mati daripada tinggal di perkampungan dekat warga.

"Ya karena memang nyaman Mas, apalagi kalau di sini gampang nyari airnya, deket sama sumber air. Kalau yang rumah baru itu kadang susah dapet air, misal mau ke sungai juga jauh," sambungnya.

Selain air, Sumiran juga merasa di rumah lamanya lebih dekat untuk mencari kayu.

Sulitnya akses menuju kampung mati di Dusun Watu Belah, Kalurahan Sidomulyo, Kapanewon Pengasih, Kulon Progo, Jumat (16/6/2023).Sulitnya akses menuju kampung mati di Dusun Watu Belah, Kalurahan Sidomulyo, Kapanewon Pengasih, Kulon Progo Foto: Jalu Rahman Dewantara/detikJateng

"Saya masih senang di sini, tempatnya nyaman. Umpami pados kayu cerak ten mriki (seumpama cari kayu lebih dekat di sini)," ucapnya.

Pria yang bekerja sebagai tukang kayu ini mengatakan rumah barunya lebih diprioritaskan untuk Agus dan Septi. Bagi Septi, rumah baru itu jadi tempat transit sepulang sekolah.

"Ya rumah baru ditempati tapi (oleh) anak-anak, kalau pulang sekolah kan di sana ada tempatnya. Kalau ke sini kasihan anak kecil," ungkapnya.

Secara administratif, Kampung Mati yang oleh warga sekitar diberi nama Kampung Suci ini berada di wilayah Dusun Watubelah, Kalurahan Sidomulyo, Kapanewon Pengasih, Kulon Progo.

Jaraknya sekitar 33 kilometer dari pusat Kota Jogja atau sekitar 12 kilometer dari kota Wates, ibu kota Kulon Progo.

Dari pintu masuk kampung hingga titik utama, yakni di tengah hutan Dusun Watu Belah, hanya bisa ditempuh dengan jalan kaki sejauh 2 kilometer. Jalannya setapak, tanah berbatu, dengan tingkat kemiringan hingga 70 derajat.

-------

Artikel ini telah naik di detikJogja.

Saksikan Live DetikPagi:



Penampakan Rumah Keluarga Terakhir di 'Kampung Mati' Kulon Progo

Penampakan Rumah Keluarga Terakhir di 'Kampung Mati' Kulon Progo


(wsw/wsw)

Terkini Lainnya

Tautan Sahabat