kubetno1.net

Bali Dikepung Hotel dan Okupansi Ideal Sulit Dicapai, Perlukah Membangun Lagi?

Ilustrasi kolam renang di hotel di Bali
Ilustrasi kamar hotel (Getty Images/iStockphoto/swissmediavision)

Jakarta -

Bali memiliki daftar panjang hotel dari berbagai kelas. Apakah saat ini perlu penambahan hotel lagi di Pulau Dewata?

Direktur Eksekutif Perhimpunan Hotel dan Restoran Indonesia (PHRI) Provinsi Bali, IB Purwa Sidemen, S.Ag., M.Si. menyebut saat ini Bali memiliki lebih dari 3.500 hotel dengan kapasitas kamar sekitar 146 ribu kamar.

Satu hotel lagi bakal dibangun, tetapi menuai kontroversi. Hotel itu dibangun di kawasan Pecatu dengan 'memotong' tebing kapur.

ADVERTISEMENT

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Pembangunan hotel itu viral di sosial media dan menuai kecaman netizen. Pemotongan tebing untuk hotel dinilai merusak lingkungan.

Selain itu, pembangunan hotel di Bali dinilai sudah berlebihan. Sebab, hotel menjadi kesulitan untuk mencapai okupansi ideal sehingga pengelola tidak kesulitan untuk memenuhi kebutuhan operasional.

ADVERTISEMENT

Menurut Purwa, pemerintah harus bisa menjaga memiliki perhitungan terkait perbandingan jumlah wisatawan yang berkunjung dan jumlah akomodasi yang tersedia di Bali dan daerah lain. Itu sebagai bentuk perlindungan terhadap pemilik usaha hotel.

Dari data yang dimiliki PHRI Bali, sejak 2010 hingga 2024 atau selama 14 tahun terakhir rata-rata okupansi hotel hanya berkisar antara 60% hingga 62%.

Purwa menjelaskan bawah tingkat rata-rata okupansi hotel idealnya adalah 70% hingga 75%. Dengan persentase keterisian itu, hotel mampu menjalankan operasional dengan baik.

Nah, jika okupansi di bawah persentase itu maka menunjukkan bahwa hotel belum mampu memenuhi kebutuhan operasional.

"Semenjak tahun 2010 hingga sekarang, statistik dari okupansi hotel rata-rata itu 60% hingga 62%. Hotel yang normal itu okupansinya 70% hingga 75%, itu hotel bisa membayar listrik, karyawan, dan sudah mendapatkan keuntungan. Kalau di bawah itu kan artinya hotel kan nggak bisa memenuhi kehidupannya sendiri, hotelnya nggak sehat," kata Purwa.

Dengan tingkat rata-rata okupansi hotel 60% hingga 62% menunjukkan bahwa Bali membutuhkan lebih banyak tamu untuk datang. Sejauh ini, ketika terjadi peningkatan kunjungan tak memberikan dampak signifikan terhadap peningkatan okupansi rata-rata.

Apesnya lagi, menurut Purwa, setiap tahun justru terjadi peningkatan jumlah properti dengan hitungan kamar yang sangat banyak. Sehingga, hotel-hotel harus bekerja ekstra keras untuk bisa menjaga keterisian kamar agar tetap bisa cuan.

"Okupansi hotel yang berkisar antara 60% - 65% ini menunjukkan bahwa kita membutuhkan wisatawan untuk datang, tapi katanya tamunya sudah banyak yang datang. Namun, kok okupansinya tidak meningkat," ujarnya.

"Ini artinya setiap tahun ada penambahan properti yang jumlah kamarnya sangat banyak. Pernah nggak dihitung oleh pemerintah, setiap tahun Bali membutuhkan berapa wisatawan agar semua hotel bisa terisi," kata Purwa.

Purwa menjelaskan bahwa pembangunan hotel yang kerap dilakukan terjadi karena tak ada angka pasti yang menghitung berapa kebutuhan hotel di Bali dalam mendukung pariwisatanya.

"Pertanyaanya, kenapa masih ada hotel yang dibangun? Karena nggak ada angka yang pasti yang memperbolehkan mereka membangun atau tidak. Sehingga, tak ada angka yang menunjukkan berapa jumlah kebutuhan hotel Bali," ujar Purwa.



Simak Video "Hidden Gem Bali: Ngopi Santai di Atas Tebing Karang Boma"
[Gambas:Video 20detik]
(fem/iah)

Terkini Lainnya

Tautan Sahabat