kubetno1.net

Warga Jepang Sinis pada Turis yang Tidak Berbahasa Lokal

Kyoto - Japan - April 9, 2017:Yasaka Pagoda and Sannen Zaka Street, Kyoto, Japan. Tourists wander down the narrow streets of the Higashiyama District neighbourhood in Kyoto, Japan
Ilustrasi Kyoto (Getty Images/pigphoto)

Tokyo -

Jepang kebanjiran turis mancanegara seiring melemahnya mata uang yen. Bukan senang, warga lokal (warlok) justru mulai sinis karena turis-turis asing itu tidak berusaha berbahasa Jepang.

Dilansir dari Unseen Japan pada Senin (27/5/2024), staf layanan Jepang mengatakan mereka kesulitan menghadapi pengunjung yang tidak berkomunikasi dengan bahasa lokal. Turis bahkan bersikeras untuk berbicara dalam bahasa ibu mereka, meskipun staf Jepang tidak memahaminya.

Kurangnya kemampuan berbahasa Inggris di Jepang telah menjadi masalah serius dalam dunia pariwisata. Apalagi, jumlah pengunjung terus meningkat hingga 3 juta per bulan sejak Maret 2024.

ADVERTISEMENT

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Akibatnya, restoran dan toko ritel kesulitan menyusun strategi untuk membantu staf mereka berkomunikasi dengan basis klien yang beragam. Pakar industri jasa merekomendasikan agar toko menggunakan menu bergambar dan terjemahannya dalam bahasa Inggris, Korea, dan Mandarin. Tiga negara ini jadi penyumbang turis terbesar di Jepang.

Sayangnya, tidak semua orang mau melayani wisatawan asing. Salah satu pemilik izakaya di Tokyo baru-baru ini membuat heboh ketika ia mengeluh di sosial media karena turis hanya menggunakan bahasa Inggris, bukan bahasa Jepang.

ADVERTISEMENT

Pemilik izakaya itu bukan satu-satunya yang ogah melayani turis. Dalam survei terbaru, 70% restoran yang disurvei mengatakan tidak berencana melayani wisatawan asing yang datang. Alasannya, mereka yang tidak bisa menggunakan bahasa Jepang adalah tamu yang terlalu sulit. Sementara 29% lainnya mengatakan bahwa turis adalah tamu yang tidak sopan.

Seorang wanita Jepang berinisial A bekerja di sebuah bar makan. Ia bercerita bahwa keterbatasan bahasa membuatnya seolah-olah tidak berguna.

"Sudah beberapa kali saya tidak bisa melayani mereka, mereka melambaikan tangan dan mengusir saya seolah-olah saya tidak berguna," kata dia.

A tentu saja marah bercampur malu. Ia telah belajar bahasa Inggris sejak SD namun keterbatasan kosa kata membuatnya seakan tidak berguna.

"Saya ingin berteriak, 'Ini Jepang, gunakan kata-kata Jepang dan sopan santun ala Jepang," kata dia dengan nada tinggi.

Mereka mengingatkan turis agar menyisipkan kata-kata Jepang dalam percakapan, misalnya, Konnichi wa (halo) atau arigatou (terima kasih).

"Kegembiraan sesungguhnya dalam komunikasi antarbudaya adalah rasa frustasi akibat miskomunikasi dan kegembiraan dalam bertukar makna," kata seorang pemilik restoran dengan inisial C.

Dalam usahanya, ia punya sedikit tips yang bisa diikuti oleh turis. Berdasarkan pengalaman, ia mencoba meminta pelanggan yang menggunakan bahasa Inggris untuk berbicara pelan-pelan.

"Gunakanlah kata-kata yang sederhana agar kita dapat saling memahami," kata dia.



Simak Video "Jepang Tutup Spot Foto Ikonik Berlatar Gunung Fuji"
[Gambas:Video 20detik]
(bnl/fem)

Terkini Lainnya

Tautan Sahabat