kubetno1.net

Menteri Malaysia Usul Diplomasi Orangutan, Jadi Suvenir Pembeli Sawit

Petugas meletakkan bayi orangutan Kalimantan subspecies Wurmbii (Pongo Pygmaeus Wurmbii) di kandang transit Kantor Balai Konservasi Sumber Daya Alam (BKSDA) Kalimantan Tengah, Palangka Raya, Jumat (22/9/2023). Balai Besar KSDA Kalimantan Tengah menerima satu ekor bayi orangutan dari Balai Besar KSDA Jawa Timur yang merupakan hasil penangkapan penyelundupan dari Pelabuhan Trisakti Banjarmasin ke Pelabuhan Tanjung Perak Surabaya yang selanjutnya akan direhabilitasi sebelum dilepasliarkan ke habitatnya. ANTARA FOTO/Auliya Rahman/rwa.
Ilustrasi orangutan (Auliya Rahman/Antara)

Jakarta -

Malaysia berencana menghadiahkan orangutan ke negara-negara yang membeli minyak sawitnya. Malaysia menyebut sebagai diplomasi orangutan.

Dikutip dari CNN, Jumat (17/5/2024), rencana itu diumumkan oleh Menteri Perkebunan dan Komoditas Malaysia Johari Abdul Ghani pada pertemuan puncak keanekaragaman hayati di Kuala Lumpur pada 8 Mei 2024. Wacana tersebut terinspirasi diplomasi panda ala China dan koala ala Australia.

Ya, pemerintah China menggunakan soft power dengan meminjamkan panda ke kebun binatang di luar negeri. Begitu pula Australia meminjamkan koala ke negara lain.

ADVERTISEMENT

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Ghani menyebut langkah itu sebagai respons kekhawatiran atas dampak komoditas pertanian terhadap iklim.

"Ini adalah strategi diplomatik yang akan menguntungkan mitra dagang dan hubungan luar negeri, terutama di negara-negara pengimpor utama seperti UE, India, dan China," kata Ghani.

ADVERTISEMENT

Ghani tidak merinci lebih lanjut seperti jangka waktu atau bagaimana hewan tersebut akan diperoleh. Namun, ia menyambut baik perusahaan kelapa sawit raksasa untuk berkolaborasi dengan kelompok lingkungan setempat dalam merawat kera raksasa yang terancam punah.

"Ini akan menjadi wujud bagaimana Malaysia melestarikan spesies satwa liar dan menjaga kelestarian hutan kita, khususnya di industri perkebunan kelapa sawit," kata dia.

Rencana itu ditentang keras pegiat konservasi, yang menyatakan bahwa kelapa sawit telah menjadi salah satu faktor terbesar di balik berkurangnya jumlah orangutan. Salah satu profesor konservasi terkemuka menyebut rencana tersebut sebagai tindakan munafik.

"Merusak hutan hujan tempat tinggal orangutan, kemudian mengambilnya dan memberikannya sebagai hadiah untuk menjilat negara lain adalah hal yang tidak pantas, menjijikkan, dan sangat munafik," kata Ketua Ekologi Konservasi di Duke University, Stuart Pimm.

"Itu benar-benar bertentangan dengan cara kita seharusnya melindungi mereka dan planet kita," dia menambahkan.

Pimm menjelaskan China tidak sekadar meminjamkan panda, tetapi juga mengupayakan konservasi jangka panjang secara serius.

"Ada perbedaan besar antara apa yang diusulkan Malaysia dan apa yang telah dilakukan China terhadap panda raksasa," kata dia.

"China mempunyai fasilitas mutakhir untuk panda. Dan, yang lebih penting, China telah membangun kawasan lindung untuk melindungi populasi panda liar. Apa yang diusulkan pemerintah Malaysia tidak bisa dibandingkan," dia menegaskan.



Simak Video "Menjaga Kelestarian Orangutan dan Habitatnya"
[Gambas:Video 20detik]
(fem/fem)

Terkini Lainnya

Tautan Sahabat