kubetno1.net

Konon, Inilah Desa Tertua di Pantai Selatan Pulau Jawa

Suasana lokasi yang diduga menjadi pusat situs Gunung Wingko, Srigading, Sanden, Bantul, Kamis (30/5/2024).
Foto: Situs Gunung Wingko di Bantul (Pradito Rida Pertana/detikJogja)

Bantul -

Situs Gunung Wingko di Bantul dipercaya sebagai desa tertua di pantai selatan pulau Jawa. Sayang, lokasi situs ini sudah sulit dipetakan. Kok bisa?

Situs yang berada di Srigading, Sanden, Bantul ini menjadi bukti adanya peradaban prasejarah. Kawasan Gunung Wingko diyakini sejak dulu telah memproduksi keramik atau gerabah.

Hal ini dibuktikan dengan adanya temuan kereweng dan artefak di kawasan itu. Namun, saat ini lokasi situs Gunung Wingko sudah tidak bisa dipetakan karena banyaknya permukiman penduduk.

ADVERTISEMENT

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Pantauan di lokasi, tidak ada papan nama atau penunjuk lokasi di Gunung Wingko. Situs itu hanya menyisakan bukit kecil dengan banyak tumbuhan di dalamnya.

Dikutip dari situs Disbud Pemkab Bantul, Gunung Wingko diyakini merupakan situs permukiman masa protohistori. Desa kuno Gunung Wingko disebut sebagai salah satu desa paling tua dan paling besar di antara desa-desa kuno di pantai selatan Jawa.

ADVERTISEMENT

Fase kehidupan yang terjadi di desa tersebut sejak masa akhir prasejarah hingga masa sejarah. Ketua Pokdarwis Srigading, Atmono (59), menjelaskan dulu di samping rumahnya terdapat bukit pasir yang sangat tinggi. Bukit pasir tinggi ini diduga menjadi pusat situs Gunung Wingko.

"Bahkan lebih tinggi dari atap rumah bukit pasir itu," kata Atmono mendeskripsikan bukit pasir itu saat ditemui di kediamannya, Kamis (30/5/2024).

Bukit tersebut, kata Atmono, memanjang dari arah barat ke timur di Jalan Samas. Secara rinci, bukti pasir itu mulai dari Tirtohargo, Kretek, Bantul hingga Karanganyar, Gadingrejo, Sanden, Bantul.

"Dengan panjang sekitar 3 kilometer, itu membentang dari arah barat ke timur," ujarnya.

Asal Usul Nama Wingko

Terkait nama Gunung Wingko, Atmono mengungkapkan karena dahulu banyak temuan benda menyerupai pecahan genting di bukit pasir. Namun, hingga saat ini tidak ada yang tahu asal muasal pecahan tersebut.

"Saat saya masih kecil, pas di bukit itu banyak sekali yang namanya wingko atau yang masyarakat sini sebut pecahan genting. Tapi itu sebenarnya pecahan gerabah berserakan banyak sekali," ujarnya.

"Nah, kejadiannya seperti apa, saya tanya orang-orang tua sini tidak ada yang tahu," lanjut Atmono.

Wingko Diduga Berasal dari Pemukiman Kuno

Atmono sendiri menduga jika wingko itu berasal dari permukiman di sisi selatan bukit. Mengingat zaman dahulu banyak permukiman di dekat sungai dan pantai.

"Dugaan saya, permukiman zaman dulu ada di sepanjang pantai dan pinggiran sungai, karena untuk akses transportasi zaman dahulu kan satu-satunya itu. Nah, pemukiman itu mungkin sudah ada sebelum zaman prasejarah," katanya.

Terkait Gunung Wingko berhubungan dengan permukiman zaman prasejarah, Atmono menilai karena banyaknya temuan artefak dan hasil kajian dari gunung tersebut. Sehingga sebelum Belanda dan Jepang menjajah sudah ada permukiman di bagian selatan Bantul.

"Saya bisa bilang begitu karena temuan artefak-artefak, hasil kajiannya ditemukan. Itu dari yang paling sederhana hingga keramik ditemukan itu dari zaman prasejarah," ucapnya.

Sedangkan untuk pusat situsnya sendiri belum ada yang bisa mengungkapnya. Semua itu karena banyaknya permukiman di sekitar Jalan Samas saat ini.

"Kalau pusat situsnya sendiri kita susah memetakan karena bentangan dari bukit pasirnya kan cukup panjang sekitar 3 kilometer," ujarnya.

Menyoal banyaknya wingko pada bukit pasir, Atmono menduga permukiman pada zaman prasejarah itu sudah bisa memproduksi garam, anyaman, dan keramik. Menurutnya, kala itu di Bantul sudah terjadi peradaban yang cukup maju di era zaman prasejarah.

"Nah, kenapa banyak wingko itu dugaan saya dulu permukiman di sana dengan kegiatan utamanya memproduksi barang, dengan menggunakan peralatan gerabah. Seperti dengan tangan kosong, roda berputar yang lambat dan kencang," katanya.

"Terus dulu itu kemungkinan terjadi tsunami, itu dugaan saya ya, meskipun belum ada bukti ilmiahnya. Karena tersapu ombak lalu membuat rumah dan segala perabotan terangkat semua dan terkena bukit pasir karena batas ketinggian tsunami mungkin segitu," imbuh Atmono.

Penemuan Arkeolog di Gunung Wingko

Di sisi lain, Atmono mengungkapkan banyak kegiatan arkeologi di Gunung Wingko. Atmono menerangkan kebanyakan pelaku kegiatan tersebut dari Universitas Gadjah Mada (UGM).

"Dari 1972 sampai 1998, itu dari UGM. Saat itu banyak ditemukan tulang manusia dan hewan. Kemudian yang sporadis atau mahasiswa-mahasiwa itu juga ada, dan terakhir itu dari UGM tahun 2019-2020," ucapnya.

Dengan banyaknya temuan itu, Atmono yakin di Bantul sudah ada peradaban sebelum berdirinya candi-candi. Apalagi, peradaban tersebut terbilang maju karena sudah bisa memproduksi gerabah.

"Semua itu membuktikan di Bantul sudah ada peradaban dan peradabannya jauh lebih tua ketimbang Borobudur dan Prambanan," ucapnya.

Situs Gunung Wingko Kini Terbengkalai

Terlepas dari semua itu, Atmono menyayangkan kurangnya kepedulian dari pemangku wilayah terhadap Gunung Wingko. Padahal Gunung Wingko sebenarnya bisa menjadi daya tarik wisata minat khusus.

"Memang tidak ada papan penanda, kepedulian dari pemangku wilayah kurang perhatian atau mungkin masukan kita yang kurang ke mereka. Sebenarnya saya pernah menawarkan, karena situs-situs seperti itu sayang kalau dibiarkan begitu saja," katanya.

Bahkan, Atmono pernah menawarkan rumahnya sebagai embrio pusat studi situs Gunung Wingko. Sebab, rumahnya berada tepat di samping lokasi yang diduga menjadi pusat situs Gunung Wingko.

"Tapi sampai sekarang belum terwujud. Padahal saat dipetakan pusat situs itu (Gunung Wingko) di sini, utara tempat saya ini dan seharusnya kan bisa menjadi living museum di sini," katanya.

Belum lagi, saat ini lahan yang diduga menjadi pusat situs Gunung Wingko akan dijual. Diketahui, tanah tersebut sudah berulang kali dijual.

"Iya (memang tanahnya djiual), karena itu hak milik. Yang punya dulu aslinya orang sini dan dijual sampai tangan keempat, dan sekarang ditawarkan lagi alias dijual," ujarnya.

Gunung Wingko Berstatus Cagar Budaya

Sementara itu, Kepala Seksi Warisan Budaya Benda Dinas Kebudayaan (Disbud) Kabupaten Bantul, Elfi Wachid Nur Rachman, menyebut Gunung Wingko berstatus situs cagar budaya. Semua itu tertuang dalam surat keputusan (SK) Bupati Bantul.

"Terkait dengan Gunung Wingko sudah jadi situs cagar budaya. Adapun status tersebut tertuang dalam surat keputusan Bupati Bantul nomor 527 tahun 2019 tentang Gunung Wingko sebagai situs cagar budaya," kata Elfi.

Menyoal tidak adanya papan penanda di Gunung Wingko, Elfi mengaku pemasangan kemungkinan berlangsung tahun ini. Mengingat tahun ini Disbud Bantul memiliki program papanisasi.

"Terkait penanda tahun 2024 ada papanisasi dan salah satu sasarannya di Gunung Wingko. Tidak hanya itu, kami juga akan mengusulkan keberadaan pusat Informasi Gunung Wingko," ucapnya.

--------

Artikel ini telah naik di detikJogja.



Cerita Guru yang Viral Mengajar Pakai Busana Karya Siswa

Cerita Guru yang Viral Mengajar Pakai Busana Karya Siswa


(wsw/wsw)

Terkini Lainnya

Tautan Sahabat