kubetno1.net

Fakta Perpustakaan Kerucut Mirip Rumah Adat Wae Rebo di Tangsel

Bagi traveler yang sudah bosan dengan wisata sekitar Jakarta yang begitu-begitu saja, perpustakaan ini bisa jadi pilihan. Bukan perpustakaan biasa, perpustakaan ini punya bentuk bangunan yang unik yaitu berbentuk kerucut seperti rumah masyarakat adat di Wae Rebo yang memang menjadi inspirasinya.
Pustaka Pahala di Ciputat, Tangsel (Natasha Kayla Ananta/)

Ciputat -

Di balik riuhnya kehidupan perkotaan Tangerang Selatan, terselip sebuah perpustakaan unik berbentuk kerucut yang bikin kepincut banyak orang. Perpustakaan itu Pustaka Pahala.

Perpustakaan Pahala ternyata bukan sekadar perpustakaan biasa namun menyimpan banyak fakta menarik mulai dari sejarah sampai filosofi arsitekturnya.

Berikut fakta-fakta menarik tentang Pustaka Pahala:

1. Dibangun oleh seorang arsitek perancang Gedung Rektorat Universitas Indonesia

Prof. Gunawan Tjahjono merupakan salah satu arsitektur pendidik Indonesia. Ia sempat menjadi guru besar Jurusan Arsitektur Universitas Indonesia ke-2 pada tahun 2002. Ia juga merupakan Rektor Universitas Pembangunan Jaya yang pertama.

ADVERTISEMENT

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Karirnya dalam arsitektur yang sudah berjalan sangat panjang tentu melahirkan banyak karya besar. Salah satu karya rancangannya adalah Gedung Rektorat Universitas Indonesia yang menjadi ikon dari Universitas Indonesia.

2. Awalnya dirancang berbentuk seperti telur

Tak langsung berbentuk kerucut, Pustaka Pahala awalnya dirancang Prof. Gunawan dengan bentuk telur dengan maksud melambangkan "kelahiran".

ADVERTISEMENT

"Jadi tadinya saya mau membuat seperti telor dengan pikiran bahwa telor itu kan nanti melahirkan sesuatu gitu ya," kata Gunawan.

Namun, ide tersebut tidak jadi ia realisasikan karena ternyata ia menemukan bentuk bangunan serupa di majalah yang dimilikinya.

"Tapi saat saya buka majalah sudah ada majalah yang memuat bentuk telur di suatu bangunan. Walaupun bukan perpustakaan tapi saya gak mau mengulangi lah. Jadi lebih baik saya ambil inspirasi dari bangunan yang ada di Indonesia (Wae Rebo)," kata dia.

Argumen itu juga diperkuat dengan pernyataan rekan arsiteknya, Yori Antar, yang mengatakan bahwa bangunan Pustaka Pahala ini sangat mirip dengan Wae Rebo di Nusa Tenggara Timur.

3. Dibangun atas dasar kegemaran keluarganya dalam membaca buku

Saat ditemui oleh pada Kamis (2/5/24), Gunawan menceritakan bahwa awalnya perpustakaan ini dibangun guna menyimpan koleksi pribadi keluarganya yang gemar membaca buku. Selama kuliah di luar negeri ia senang sekali membeli berbagai jenis buku di bazar perpustakaan untuk ia simpan sebagai bacaan dan koleksi.

"Saya sejak mahasiswa sudah mulai kumpulkan buku senang membaca, lalu saat diberi kesempatan belajar ke luar bukunya makin banyak," kata Gunawan.

"Karena di sana ada library sale, biasanya kami datang pada hari ke empat karena pada hari keempat satu box (bebas pilih) itu harganya 1 dollar. Jadi buku saya makin banyak dan bidangnya macam-macam dari filsafat sampai masakan tapi yang paling banyak tentu bidang saya Arsitektur dan Kota dia menambahkan.

Kegemarannya membaca buku ternyata juga turun kepada anaknya, Puspa. Bahkan 500 buku yang ada di Pustaka Pahala ternyata milik pribadi Puspa. Bahkan semasa sekolah di luar negeri Puspa berhasil mendapat penghargaan 'Young Writer Award' dari sekolahnya.

4. Nama Pustaka Pahala punya makna khusus

Terdapat makna dibalik nama Pustaka Pahala. Pahala ini diambil dari bahasa Sansekerta yang bermakna buah. Harapannya pustaka sebagai bibit ini dapat menghasilkan buah-buah yang berkualitas.

Selain itu, ia juga memilih nama pahala sebagai salah satu bentuk dari latar belakangnya membentuk perpustakaan ini sebagai wadah berbagi pengetahuan yang dimilikinya kepada masyarakat luas. Sehingga, dapat menjadi ladang pahala baginya saat sudah tiada.

Jika mengambil akronim dari Pustaka Pahala akan ditemukan PusPa, yang merupakan nama anak Gunawan.

5. Ada filosofi khusus di bangunannya

Sebagai seorang arsitek kondang, Gunawan memang senang membuat bangunan dengan makna khusus. Salah satunya tangga di rumahnya yang menghadap ke timur, ini mengisyaratkan menyambut matahari.

Jika diperhatikan secara detail, pengunjung akan menemukan bagian berwarna kuning yang mengarahkan bagian timur sebagai tempat matahari terbit sekaligus lambang harapan.

Bagian koleksi buku anak di lantai 1 melambangkan pendidikan dasar untuk anak anak, ketika menaiki tangga pengunjung akan menemukan berbagai buku yang dianggap lebih berat dan membutuhkan pemahaman mendalam. Ini mengisyaratkan perjalanan pertumbuhan manusia dari anak anak menuju dewasa.

6. Menanamkan aspek pendidikan perilaku bagi anak-anak

Gunawan pemilik sekaligus perancang Pustaka Pahala menganggap bahwa anak-anak masih sangat lentur untuk dibina agar dapat memiliki kepribadian dan kebiasaan yang baik. Oleh karena itu, ia sangat tertarik dengan pendidikan perilaku anak-anak di Pustaka Pahala.

Selain menanamkan sifat gemar membaca, Gunawan juga ingin tanamkan sifat ramah kepada anak-anak melalui contoh langsung dari pustakawan yang selalu menyambut ramah para pengunjung.

Kemudian, ditanamkan juga sifat disiplin dalam berperilaku melalui kebiasaan mencopot sepatu saat memasuki ruangan dan menggantinya dengan sanda khusus.

Menurut Gunawan, upaya itu merupakan kelanjutan dari kebiasaan orang zaman dahulu yang menyimpan kendi sebagai tempat cuci tangan dan kaki sebelum masuk ke rumah.

Bangunan Pustaka Pahala tidak menggunakan AC dan menggunakan cahaya matahari sebagai penerangannya saat siang hari. Ini sebagai wujud pembelajaran agar anak-anak dapat mencintai lingkungan dengan menghemat penggunaan listrik.

7. Dibangun menggunakan dana pribadi

Sebagai wujud sumbang ilmu yang dimilikinya, Gunawan juga ternyata merancang dan membangun Pustaka Pahala dengan dana pribadi yang dimilikinya.



Simak Video "Liburan Seru Beraktifitas Sehat Bersama Warga Kota Malang"
[Gambas:Video 20detik]
(fem/fem)

Terkini Lainnya

Tautan Sahabat